MEMPROMOSIKAN POHON PUCUNG, MENGEKSPLORASI POTENSINYA, UNTUK INOVASI BATIK KONTEMPORER Promoting Pangium Tree, Exploring Its Potential, For Contemporary Batik Innovation Section Articles

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Dwi Marianto

Abstract

ABSTRAK


Sekali dayung dua pulau terlampaui adalah ungkapan untuk suatu projek penciptaan seni, yaitu mengembangkan ide-ide kreatif dari sebuah pohon pucung/kepayang, seraya memromosikan keistimewaan pohon itu ke masyarakat luas, sehingga banyak orang tergerak melestarikan dan membudidayakannya. Buah pohon ini disebut buah pucung, atau buah kepayang; bijinya dijadikan kluwak untuk bumbu masakan rawon dan brongkos, atau diolah menjadi sambel kluwek yang sedap. Pohon ini terbilang langka, bahkan terancam punah bila tidak dilestarikan. Kebanyakan orang tidak tahu/peduli akan pohon ini, apa lagi di kota-kota besar di Indonesia, di antaranya Yogyakarta tempat penulis tinggal. Projek ini bertujuan meneliti pohon pucung secara ethnografis, guna mengetahui berbagai hal dan keunikan dari pohon ini, di antaranya: bentuk, struktur, dan tampilan visual buah, daun, biji, kulit, batang, bentuk keseluruhan pohon pucung, dan habitatnya; juga pola warna dari masakan dan sambel yang bumbu utamanya adalah daging biji kluwak. Segala sesuatu yang berkait dengan kluwak dan buah pucung itu sendiri akan diekspose, dikaji dan diseleksi sebagai elemen-elemen visual, atau basis konsepsual, guna menyiptakan motif-motif dan tampilan batik kontemporer yang menghadirkan novelti dan invensi yang bernilai. Penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan, yaitu: pengamatan mendalam quantum; studi literatur; dan keterbukaan sikap guna menyerap, mengembangkan, dan mentransformasi ide-ide baru dan segar menjadi kebolehjadian kreatif batik kontemporer, dan demi pelestarian pohon pucung itu sendiri.


ABSTRACT


Rowing at once exceeding two islands’ is an expression for an art creation project, namely developing creative ideas from the pangium / pucung tree while promoting the speciality of the tree to the broader communities so that many people get moved to preserve and cultivate it. The fruit of this tree is namely pangium nuts or pucung fruit; the seeds traditionally named kluwak/ pangium nuts are used for rawon and brongkos seasoning or processed into a delicious sambal kluwak. This tree is quite rare, even endangered if not preserved. Many people in major cities in Indonesia do not know/ care about this tree in major cities, including Yogyakarta where the author lives. This project aims to research pangium trees ethnographically, to know the various things and uniqueness of this tree, including the shape, structure, and visual appearance of fruit, leaves, seeds, bark, trunks, the overall appearance of the pangium tree itself, and its habitat; also the colour pattern of the cuisine and sambal whose main seasoning is the meat of pangium seeds. The author explored, studied, and selected everything related to kluwak and fruit pucung as visual elements, or the conceptual base, to generate motifs and contemporary batik displays that present novel and valuable inventions. This study uses several approaches: quantum profound observation, literary studies, and openness of attitude to absorb, develop, and transform new and fresh ideas into the creative ability of contemporary batik and for the preservation of the pangium tree itself.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

How to Cite
Marianto, D. (2021). MEMPROMOSIKAN POHON PUCUNG, MENGEKSPLORASI POTENSINYA, UNTUK INOVASI BATIK KONTEMPORER. Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan Dan Batik, 3(1), A.01 1-10. Retrieved from https://proceeding.batik.go.id/index.php/SNBK/article/view/90